Senin, 24 Maret 2014


It’s Just a Dream
Saat sebuah impian menjadi kenyataan. Saat suara hati itu tak lagi didengar. Kau akan menemukan sebuah dunia. Pejamkan mata. Rasakan sapuan-sapuan debu di wajahmu. Naik terus, hingga mencapai ambang batas imajinasi. Di mana kau akan menjadi seseorang yang sangat diharapkan.
Berputar. Terus melaju. Hingga kau akan tiba di sebuah gerbang yang akan mengantarmu menjelajahi dunia asing dan separuh impianmu akan menjadi kenyataan.
Itulah yang terjadi kepadaku. Sejak mendapat kabar bahwa aku diterima di Universitas Mugen, Tokyo. Saat itulah, aku memejamkan mataku. Menyaksikan jutaan warna-warna pelangi yang jatuh menghunjam tanah.
Baiklah. Ini tidak lucu. Saat kubuka mata, aku berada di sebuah perpustakaan. Kuno. Itulah kesan pertama saat kujejakkan kaki di sini. Seorang wanita paruh 
baya menghampiriku dan mengajakku berkeliling.
“Buku-buku ini adalah sumbangan dari setiap manusia di muka bumi. Apa yang mereka pikirkan, akan langsung tercetak menjadi sebuah buku. Mungkin, kau ingin membaca?” Tawarnya sembari menyodorkan sebuah buku bersampul kekuningan.
“Baiklah, madame.. Jika saya boleh tahu, di mana saya berada”
“Apakah benar kau tidak tahu di mana kau berada?” Wanita di hadapanku terperangah. Aku berdeham dan menggeleng.
“Kau ada di dalam dunia imajinasi, sayang. Dunia imajinasi adalah sebuah dunia yang hanya akan bisa kau temukan saat kau merasakan kebahagiaan yang super. Dan.. puf! Hanya dalam sekejap, kau akan tiba di sini”
“Tapi...”
“Jangan menyela ucapanku!”
“Dunia imajinasi terdiri dari tiga tahapan. Dan kau ada pada tahapan pertama. Ingat. Baru tahapan pertama. Masih ada dua tahap lagi. Di mana kau harus mempertaruhkan semua mimpi-mimpimu. Hanya ada dua kata dalam dunia ini. Berhasil atau gagal!”
“Apakah kau sudah paham, sweety?”
“Ya. Aku sudah tidak sebingung saat awal tadi”
“Baiklah. Mari kita berkeliling lagi”
Kami berputar-putar sejenak dalam perpustakaan kuno tersebut. Kulihat aneka macam buku dengan warna sampul yang berbeda-beda, tertata rapi dalam sebuah rak yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit. Dinding-dinding cokelatnya sudah sangat kusam dan berdebu. Lantai marmer yang kuinjak pun dipenuhi debu.
Sesaat kemudian, wanita paruh baya di hadapanku berhenti. Dia mencengkeram tanganku erat-erat.
“Diam di situ, sayang!” Kemudian, dia mengambil sebuah buku tua yang sangat tebal. Dibawanya buku itu kepadaku.
Saat buku tersebut dibuka, berjatuhanlah debu-debu dan laba-laba segala ukuran. Aku bergidik jijik. Tapi, wanita itu tidak. Dia seakan sudah benar-benar terbiasa.
“Buku ini.. Oh, buku yang sangat terhormat. Buku ini berasal dari pemikiran-pemikiran seorang pengarang berkebangsaan Jepang. Ayumi Hitokinara. Nona Ayumi yang mulia, sepanjang hari berpikir. Menyempurnakan baris demi baris kalimat untuk buku ini. Dan saat buku ini selesai, penduduk dunia imajinasi menyambut dengan sukacita”
“Di dalam buku ini, Nona Ayumi menuliskan segala tentang kehidupannya. Tentang apapun yang terjadi dalam hidupnya yang tidak semudah sangkaan orang-orang. Nona Ayumi sejak kecil harus menerima perlakuan kejam dari keluarganya. Balasan atas kehadirannya yang tak diharapkan”
“Kau boleh memiliki buku ini, nak”
Aku tertegun. Aku? Aku hanya seorang pendatang baru yang bahkan tidak mengenal apa-apa tentang dunia imajinasi. Bahkan, aku merasa bahwa aku belum pernah menyumbangkan satu ide pun untuk dunia imajinasi ini.
Dan, seakan dapat membaca pikiranku, wanita itu menjawab 
“Kau generasi kesepuluh dari Nona Ayumi. Dan, di akhir buku ini, Nona Ayumi berpesan, supaya buku ini diserahkan kepada generasinya yang kesepuluh. Generasi kesepuluh adalah generasi yang istimewa. Begitulah..”
“Bolehkah kulihat tulisan tersebut?”
Wanita paruh baya itu membuka halaman terakhir dari buku tebal tersebut dan menunjukkan sebuah tulisan kepadaku.
KUSUMBANGKAN SELURUH PEMIKIRAN DAN IDE-IDEKU TERUNTUK GENERASIKU KE-SEPULUH.
“Tapi.. tapi.. Aku belum pernah menyumbang satu ide pun untuk perpustakaan ini”
“Omong kosong! Ayo ikut aku” Wanita itu menggandengku sambil membawa buku yang tebal tadi. Dia mengajakku ke sebuah rak. Di rak tersebut tertulis : 
KHUSUS GENERASI NONA AYUMI.
“Sebentar. Akan kucari terlebih dahulu” Tak lama, dia kembali ke hadapanku dan menunjukkan sebuah buku yang cukup tipis. Dengan sampul berwarna biru laut. Seperti warna mataku.
“Ini buku tentang idemu. Dan, oh.. Kau sungguh tak suka berimajinasi” Aku hanya tersenyum kecil. Dan... saat kubuka bukuku itu, sirine di langit-langit perpustakaan berbunyi memekakkan telinga.
Kulempar bukuku dan bersembunyi di bawah meja. Baiklah, baiklah... Terserah kalian mau menyebutku sebagai penakut atau apalah.Yang jelas, aku benar-benar ngeri.
“Sudah saatnya kau masuk ke tahap kedua. Bawa buku ini, sayang!” Wanita tua itu menyerahkan buku tebal karangan Ayumi tersebut di tanganku. Lalu, dia mengangkat tubuhku dan melemparkan aku keluar.
Oh! Aku melayang. Berputar. Menghunjam dengan kecepatan penuh. Aku tidak berani membuka mata. Dan yang kurasakan selanjutnya adalah... empuk. Ya. Empuk.
Hei. Aku berada di kasur yang terbuat dari permen kapas. Dan kasur ini sungguh-sungguh besar! Juga empuk tentunya. Aku meraup sejumput permen kapas dan memakannya. Hmm.. Manis
“Selamat datang di dunia imajinasi tahap dua, anakku...” Aku menoleh. Seorang perempuan cantik sedang tersenyum kepadaku. Lalu, memakaikan sebuah mahkota yang terbuat dari jalinan akar pohon dan tanaman rambat.
“Ini mimpimu, kan?” 
Aku memandang ke sekelilingku. Ya. Aku pernah berimajinasi seperti ini. Hebat! Sekarang aku benar-benar ada dalam mimpiku. Perempuan cantik itu mencium pipiku.
“Kau generasi yang kesepuluh, Livia...”
“Bagaimana kau tahu namaku?”
“Aku cermin dari mimpimu. Kau harus paham akan hal itu” Lalu, perempuan itu mengajakku duduk kembali.
“Lima menit lagi, kau akan sampai di tahap ketiga, dan kau akan segera pulang” Ucapnya.
Saat aku hendak meraup sejumput permen kapas lagi, sirine kembali berbunyi. Aku mengernyitkan dahi.
“Sudah lima menit?”
“Memang. Di sini waktu berjalan lebih cepat” Perempuan cantik itu melepas mahkota di kepalaku, dan aku pun melayang seperti tadi. Aku tidak suka euforia semacam ini.
...
Suara air bermain di telingaku.
Aku tenggelam! Tolong.. Seorang gadis cilik menyelamatkanku. Dia menarkku menuju daratan. Aneh! Di dunia nyata, aku handal dalam menyelam. Tapi kini? Aku tenggelam? Itu mustahil!
“Kak tidak apa-apa?” Tanya gadis yang menolongku. Aku terbatuk-batuk dan menatapnya.
“Tidak apa-apa. Namamu siapa?”
“Namaku Kalista, Kak Livia...” Ucapnya. Aku tersedak. Kalista bergegas. Menyingkirkan rambut yang masuk ke dalam mulutku.
“Kak Livia ingin pulang?” Aku mengangguk. Kalista menggandeng lenganku lembut. Lalu, dia mengajakku menyelam. Tak lupa, kubawa serta buku karangan Ayumi.
Gelombang pecah.
Aku menyelam! Dan... Aku punya ekor! Kalista terus menggandeng lenganku menuju kastil di dalam air. Hei! Ada apa ini?
Kami tiba di kastil tersebut. Seorang wanita yang begitu cantik menyambut kami. Dia menunduk. Memakaikan mahkota di kepalaku.
“Kau adalah generasiku yang kesepuluh, Livia...Aku adalah Ayumi. Da, aku berpesan kepadamu untuk terus melanjutkan mimpi-mimpiku” Aku terbelalak. Inikah Ayumi Hitokinara?
“Tapi, aku tak suka bermimpi”
“Jangan lepas mahkota itu. Maka kau akan selalu punya persediaan ide yang penuh. Sekarang, bukalah pintu di sana. Dan... Pulang” Aku mengangguk. Sebelumnya, Ayumi memelukku erat.
"Oh ya, satu lagi. Tetaplah dekap buku itu. Sampai perjalananmu berakhir. Jika buku itu terlepas, kau akan tersesat. Begitu kau tiba di tujuan, buku itu akan langsung hilang" Aku mengangguk sekali lagi. Ayumi tersenyum dan melepas pelukannya.
Kemudian, aku berjalan mendekati pintu yang dimaksud. Sejenak, aku menoleh. Dan kulihat mereka semua. Warga dunia imajinasi, melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum dan.. pulang.

...
Itulah kisahku. Datanglah ke dunia imajinasi. Mungkin, kau adalah generasi Ayumi pula. Ingatlah. Ini hanya mimpi! Its just a dream.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez