THENGUL
DAN SEEKOR BEBEK
Aku
harus bangun jika tidak ingin membuat matahari marah. Lagipula, pagi ini
merupakan giliranku untuk mengantarkan sarapan untuk bapak di sawah. Hmm..
Baiklah. Aku menyerah. Aku pun bangkit dan bergegas mandi serta berlari menuju
ruang makan.
Tampak
ibu menyiapkan sarapan. Aku menyesal karena bangun telat hari ini. Itu artinya,
aku terlalu siang untuk bisa membantu ibu menyiapkan sarapan. Dengan langkah
menyesal, aku berjalan menuju ruang makan.
“
Selamat pagi, bu..”. Ucapku.
“
Selamat pagi, Alina.. Bagaimana? Sudah siap mengantar sarapan ke sawah?”. Tanya
ibu. Aku mengangguk.
Kemudian,
ibu meraih sebuah rantang dan meletakkannya dalam tas kecil, lalu
menyelipkannya di sela sela jariku. Kemudian, aku segera memakai kerudungku dan
segera pamit pada ibu.
Akhirnya,
aku sampai di sawah. Bapak tampak sedang duduk duduk di saung bersama kawan
kawan petaninya seraya bersenda gurau. Aku berlari menyusuri pematang sawah dan
menuju ke saung.
“
Assalamu’alaikum, bapak...!! Maaf, ya, Lina telat. Tadi bangun kesiangan”.
Ucapku.
“
Wa’alaikumsalam.. Enggak apa apa. Mana sarapannya? Bapak sudah lapar”. Aku pun
mengangsurkan rantang ke tangan bapak dan segera berlalu.
Saat
aku menggoes sepedaku, terdengar suara.
“
Alina! Alina! Kemarilah!”. Aku menoleh. Ternyata itu Rizqia, sahabatku di
sekolah. Aku pun berhenti dan memarkir sepedaku di bawah sebatang pohon jati.
Lalu, turun ke sawah untuk menemui Rizqia.
“
Ada apa, Qia?”. Tanyaku.
“
Tolong bantu aku ngangon bebek! Kemarin, bapak baru saja membeli
beberapa ekor bebek lagi. Aku jadi semakin repot”.
“Memang
berapa jumlah bebekmu?”.
“
Dua belas”. Jawab Rizqia. Seketika, meledaklah tawaku.
“
Qia, qia.. Dua belas itu sedikit. Kamu tahu bebek punyanya Wak Haji? Jumlahnya
dua puluh dua!”. Tegasku. Rizqia hanya tersenyum simpul dan mengayunkan tongkat
untuk menggiring bebek bebeknya menuju tengah sawah.
“
Ngomong ngomong, kamu enggak capek, ya.. Setiap hari ngangon bebek?”.
Tanyaku.
“
Enggak, kok! Lagipula, ini hiburan tersendiri buatku”. Jawab Rizqia singkat.
Tiba tiba, dua orang teman kami, Nadia dan Rilla melintas menggunakan sepeda.
Sontak, aku berteriak.
“
Nadia! Rilla! Ayo, mainan disini bareng kita!”. Ajakku. Nadia dan Rilla
berhenti. Lalu mereka juga memarkir sepeda di samping sepedaku. Selanjutnya, mereka
sudah berada di hadapan kami.
“
Main apa? Ngangon bebek? Males, ah!”. Sahut Nadia. Aku merengut.
“
Bukan, lagi! Kita main cublak cublak suweng, yuk!”. Ajakku.
“
Gimana caranya? Ini kan di sawah!”.
“
Ya biasa. Tapi yang kalah, harus jaga sambil telungkup di lumpur. Kan seru,
tuh!”. Usul Rilla. Kami mengangguk setuju.
Selama
permainan, kami happy banget. Tertawa bersama. Saat saat seperti inilah
yang selalu kurindukan saat aku jauh dari sahabat sahabatku. Walau anehnya, aku
yang berkali kali kalah. Hufft...
Kami
menyudahi permainan saat matahari sudah meninggi. Nadia dan Rilla pamit untuk
melanjutkan kegiatan mereka semula. Aku pun juga pamit pulang. Sementara Rizqia
kembali ngangon bebek.
...
Adzan
maghrib berkumandang syahdu dari surau. Saat aku hendak menutup pintu,
terlihatlah Rizqia berlari tergopoh gopoh menghampiriku.
“
Lina... Bebekku hilang satu!”. Ujar Rizqia penuh kepanikan. Aku terkejut.
“
Lho? Kok? Yaudah.. ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam. Kalau diluar enggak
enak sama tetangga”. Saranku seraya membimbing Rizqia untuk masuk.
Di
dalam, Rizqia menceritakan kronologis kejadian hilangnya bebek tersebut. Dia
menangis di pelukanku.
“
Tenang, Qia.. Semua pasti ada jalan keluarnya. Besok, kita hubungi teman teman
yang lain. Kita pikirkan bersama sama bagaimana cara untuk mencari bebekmu”.
Ujarku. Rizqia mengangguk.
“
Makasih, ya, Lin.. Besok, aku akan kabari Rilla dan Nadia. Semoga mereka mau
membantu”. Kata Rizqia kemudian. Dengan senyuman, kubalas anggukannya.
...
Keesokan
harinya...
Aku,
Rilla, Nadia, dan Rizqia berkumpul kembali di sekolah. Saat jam istirahat, kami
bicara di kantin. Hingga akhirnya, Nadia berseru.
“
Hei, gimana kalau kita ganti saja bebek yang hilang itu?”. Usul Nadia.
“
Nadia! Memangnya kamu pikir, bebek itu harganya semurah permen apa? Bebek itu
mahal, Nad!”. Bantah kami kesal. Tapi, Rilla tampak terdiam.
“
Guys, gimana kalau kita buat acara penggalangan dana untuk mengganti
bebek itu?”. Saran Rilla. Aku, Rizqia dan Nadia memandang Rilla penuh harapan.
“
Jadi, gini.. Nanti kita buat acara penggalangan dana. Bagaimana kalau kita
menunjukkan pementasan Tarian Thengul. Kita kan pernah diajari waktu ekskul
tari”. Ingat Rilla.
“
Tapi, Ril.. Thengul itu kan harus melibatkan banyak orang.. Dan kebanyakan dari
mereka berpasangan laki laki-perempuan”. Ujar Rizqia.
“
Kita ajak saja Ira, Dewi, Salsa, Keyla, Maudy, dan semua yang mau “. Rilla
tetap mempertahankan argumentasinya.
Akhirnya,
kami sepakat untuk mengadakan pementasan Thengul. Selanjutnya, kami
menginformasikan hal ini kepada teman teman yang lain. Ternyata, banyak yang
mau berpartisipasi. Rizqia mengucapkan berterima kasih berkali kali.
Tak
terasa, hari H telah tiba. Aku pergi ke Lapangan desa dengan diantar ibu.
Begitu sampai disana, aku digiring oleh seorang perempuan menuju ruang tata
rias. Kami pun di make up sebagaimana pemain Thengul pada umumnya.
Setelah di make up, aku keluar dari ruang tata rias dan segera bergabung
dengan anak anak yang lain.
Lima
belas menit kemudian, pertunjukan dimulai. Kami mungkin belum bisa menampilkan
yang paling baik. Tapi, kami berusaha untuk menampilkan yang terbaik agar dana
yang terkumpul semakin banyak.
Usai
pertunjukan, kami berkumpul di belakang panggung sambil menghitung uang yang
dihasilkan. Dan ternyata, uang yang dihasilkan cukup, bahkan lebih!
Rizqia
mengangis terharu sambil memeluk Rilla. Kami pun ikut berpelukan terharu. Ya.
Inilah kisah persahabatan kami. Persahabatan Thengul dan Seekor Bebek.

0 komentar:
Posting Komentar