Jumat, 27 Desember 2013


THENGUL DAN SEEKOR BEBEK
Aku harus bangun jika tidak ingin membuat matahari marah. Lagipula, pagi ini merupakan giliranku untuk mengantarkan sarapan untuk bapak di sawah. Hmm.. Baiklah. Aku menyerah. Aku pun bangkit dan bergegas mandi serta berlari menuju ruang makan.
Tampak ibu menyiapkan sarapan. Aku menyesal karena bangun telat hari ini. Itu artinya, aku terlalu siang untuk bisa membantu ibu menyiapkan sarapan. Dengan langkah menyesal, aku berjalan menuju ruang makan.
“ Selamat pagi, bu..”. Ucapku.
“ Selamat pagi, Alina.. Bagaimana? Sudah siap mengantar sarapan ke sawah?”. Tanya ibu. Aku mengangguk.
Kemudian, ibu meraih sebuah rantang dan meletakkannya dalam tas kecil, lalu menyelipkannya di sela sela jariku. Kemudian, aku segera memakai kerudungku dan segera pamit pada ibu.
Akhirnya, aku sampai di sawah. Bapak tampak sedang duduk duduk di saung bersama kawan kawan petaninya seraya bersenda gurau. Aku berlari menyusuri pematang sawah dan menuju ke saung.
“ Assalamu’alaikum, bapak...!! Maaf, ya, Lina telat. Tadi bangun kesiangan”. Ucapku.
“ Wa’alaikumsalam.. Enggak apa apa. Mana sarapannya? Bapak sudah lapar”. Aku pun mengangsurkan rantang ke tangan bapak dan segera berlalu.
Saat aku menggoes sepedaku, terdengar suara.
“ Alina! Alina! Kemarilah!”. Aku menoleh. Ternyata itu Rizqia, sahabatku di sekolah. Aku pun berhenti dan memarkir sepedaku di bawah sebatang pohon jati. Lalu, turun ke sawah untuk menemui Rizqia.
“ Ada apa, Qia?”. Tanyaku.
“ Tolong bantu aku ngangon bebek! Kemarin, bapak baru saja membeli beberapa ekor bebek lagi. Aku jadi semakin repot”.
“Memang berapa jumlah bebekmu?”.
“ Dua belas”. Jawab Rizqia. Seketika, meledaklah tawaku.
“ Qia, qia.. Dua belas itu sedikit. Kamu tahu bebek punyanya Wak Haji? Jumlahnya dua puluh dua!”. Tegasku. Rizqia hanya tersenyum simpul dan mengayunkan tongkat untuk menggiring bebek bebeknya menuju tengah sawah.
“ Ngomong ngomong, kamu enggak capek, ya.. Setiap hari ngangon bebek?”. Tanyaku.
“ Enggak, kok! Lagipula, ini hiburan tersendiri buatku”. Jawab Rizqia singkat. Tiba tiba, dua orang teman kami, Nadia dan Rilla melintas menggunakan sepeda. Sontak, aku berteriak.
“ Nadia! Rilla! Ayo, mainan disini bareng kita!”. Ajakku. Nadia dan Rilla berhenti. Lalu mereka juga memarkir sepeda di samping sepedaku. Selanjutnya, mereka sudah berada di hadapan kami.
“ Main apa? Ngangon bebek? Males, ah!”. Sahut Nadia. Aku merengut.
“ Bukan, lagi! Kita main cublak cublak suweng, yuk!”. Ajakku.
“ Gimana caranya? Ini kan di sawah!”.
“ Ya biasa. Tapi yang kalah, harus jaga sambil telungkup di lumpur. Kan seru, tuh!”. Usul Rilla. Kami mengangguk setuju.
Selama permainan, kami happy banget. Tertawa bersama. Saat saat seperti inilah yang selalu kurindukan saat aku jauh dari sahabat sahabatku. Walau anehnya, aku yang berkali kali kalah. Hufft...
Kami menyudahi permainan saat matahari sudah meninggi. Nadia dan Rilla pamit untuk melanjutkan kegiatan mereka semula. Aku pun juga pamit pulang. Sementara Rizqia kembali ngangon bebek.
...
Adzan maghrib berkumandang syahdu dari surau. Saat aku hendak menutup pintu, terlihatlah Rizqia berlari tergopoh gopoh menghampiriku.
“ Lina... Bebekku hilang satu!”. Ujar Rizqia penuh kepanikan. Aku terkejut.
“ Lho? Kok? Yaudah.. ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam. Kalau diluar enggak enak sama tetangga”. Saranku seraya membimbing Rizqia untuk masuk.
Di dalam, Rizqia menceritakan kronologis kejadian hilangnya bebek tersebut. Dia menangis di pelukanku.
“ Tenang, Qia.. Semua pasti ada jalan keluarnya. Besok, kita hubungi teman teman yang lain. Kita pikirkan bersama sama bagaimana cara untuk mencari bebekmu”. Ujarku. Rizqia mengangguk.
“ Makasih, ya, Lin.. Besok, aku akan kabari Rilla dan Nadia. Semoga mereka mau membantu”. Kata Rizqia kemudian. Dengan senyuman, kubalas anggukannya.
...
Keesokan harinya...
Aku, Rilla, Nadia, dan Rizqia berkumpul kembali di sekolah. Saat jam istirahat, kami bicara di kantin. Hingga akhirnya, Nadia berseru.
“ Hei, gimana kalau kita ganti saja bebek yang hilang itu?”. Usul Nadia.
“ Nadia! Memangnya kamu pikir, bebek itu harganya semurah permen apa? Bebek itu mahal, Nad!”. Bantah kami kesal. Tapi, Rilla tampak terdiam.
Guys, gimana kalau kita buat acara penggalangan dana untuk mengganti bebek itu?”. Saran Rilla. Aku, Rizqia dan Nadia memandang Rilla penuh harapan.
“ Jadi, gini.. Nanti kita buat acara penggalangan dana. Bagaimana kalau kita menunjukkan pementasan Tarian Thengul. Kita kan pernah diajari waktu ekskul tari”. Ingat Rilla.
“ Tapi, Ril.. Thengul itu kan harus melibatkan banyak orang.. Dan kebanyakan dari mereka berpasangan laki laki-perempuan”. Ujar Rizqia.
“ Kita ajak saja Ira, Dewi, Salsa, Keyla, Maudy, dan semua yang mau “. Rilla tetap mempertahankan argumentasinya.
Akhirnya, kami sepakat untuk mengadakan pementasan Thengul. Selanjutnya, kami menginformasikan hal ini kepada teman teman yang lain. Ternyata, banyak yang mau berpartisipasi. Rizqia mengucapkan berterima kasih berkali kali.
Tak terasa, hari H telah tiba. Aku pergi ke Lapangan desa dengan diantar ibu. Begitu sampai disana, aku digiring oleh seorang perempuan menuju ruang tata rias. Kami pun di make up sebagaimana pemain Thengul pada umumnya. Setelah di make up, aku keluar dari ruang tata rias dan segera bergabung dengan anak anak yang lain.
Lima belas menit kemudian, pertunjukan dimulai. Kami mungkin belum bisa menampilkan yang paling baik. Tapi, kami berusaha untuk menampilkan yang terbaik agar dana yang terkumpul semakin banyak.
Usai pertunjukan, kami berkumpul di belakang panggung sambil menghitung uang yang dihasilkan. Dan ternyata, uang yang dihasilkan cukup, bahkan lebih!
Rizqia mengangis terharu sambil memeluk Rilla. Kami pun ikut berpelukan terharu. Ya. Inilah kisah persahabatan kami. Persahabatan Thengul dan Seekor Bebek.

Kamis, 19 Desember 2013


MISTERI LOTENG PAMAN LOU

Malam ini, aku tidur di rumah Paman Lou. Bersama sepupuku yang sangat kusayangi, Glorya. Minggu ini, sekolahku libur. Begitu pula dengan Glorya. Tentu saja! Karena akau dan Glorya satu sekolah.
Malam kian membungkus. Aku merapatkan selimut bulu yang menutup hampir seluruh anggota badanku. Tiba-tiba, Glorya bangkit dan menyalakan candle lamp miliknya.
“ Clarissa, aku ingin bercerita sesuatu padamu. Kuharap, kau tidak akan takut”. Ujar Glorya.
“ Siapa pula yang takut!”. Seruku sebal. Glorya menghela napas dan menyisipkan poni rambutnya ke telinga.
“ Tidak jadi, lah.. Lagipula, kau ketus begitu....”.
“ Aku tidak ketus. Aku hanya...”.
“ Sudah. Lekas tidur. Besok, kau ikut aku ke loteng”. Tukas Glorya cepat.
“ Ke loteng?”.
“ Iya. Sudah, jangan banyak tanya”.
“ Baiklah...” Aku menyahut. Kemudian, Glorya berbaring kembal. Aku mencoba memejamkan mata, namun tak bisa. Cahaya candle lamp Glorya menggangguku.
“ Glorya Parkinson, matikan candle lamp-mu !”. Teriakku. Glorya hanya mendesah pelan. Aku merengut. Kulepas ikat rambutku dan beringsut mendekati meja untuk mematikan candle lamp.
Saat aku hendak menggapai lampu kecil di atas meja itu, kaki Glorya tanpa sengaja menendang tubuhku, hingga membuatku hampir terjungkal. Aku mendengking perlahan. Detik itulah, aku melihat sesuatu di bawah kasur.
Sesuatu yang sangat ganjil. Yang tidak seharusnya hadir di malam penuh kebahagiaan ini.
“ Waaa...!! Glory! Bangun... Aku takut Glory!”. Teriakku. Aku melompat ke kasur. Glorya terbangun dengan sedikit berjingkat.
“ Aduh, aduh! Stop! What happened, Clarissa?”. Tanya Glorya. Aku melompat ke pelukan Glorya.
“ Glory, ada sesuatu yang menyeramkan di bawah kasur. Yang...yang... Ah, dia.. menyeramkan!”. Jawabku. Glorya tertawa dan melepas pelukanku.
“ Tidak ada apa apa, Clarissa... Itu hanya alat pel yang tadi kuletakkan di bawah kasur”. Tukas Glorya.
“ Bukan... Tentu aku sanggup membedakan mana alat pel dan mana yang...”. Kata-kataku terputus saat Glorya menarik lenganku.
....

Tunggu kelanjutannya, ya...

Kamis, 05 Desember 2013


                                BUNGA BUNGA PERSAHABATAN


Aku punya seorang sahabat. Namanya Keyla Azila. Sayang sekali, Kami telah berpisah tiga tahun. Karena..
 

...
 

" Good morning, Fina..". Sapa Keyla.
" Good morning, too, Keyla ". Balasku.

Aku segera meletakkan tas di dalam laci meja. Kemudian, Aku dan Keyla bermain bersama di Taman. Kami memang sering pergi ke Taman sebelum bel masuk berbunyi. Biasanya, Kami bermain, cerita, curhat, bercanda bahkan membantu Penjaga taman menanam dan merawat bunga.

Sedang asyik asyiknya bermain, handphone di saku baju Keyla bergetar. Dengan sigap, Keyla mengangkat telepon yang ternyata dari mamanya.

Sesaat setelah menerima telepon, raut wajah Keyla berubah jadi sedih.

" Ada apa, Key? ". Tanyaku. Keyla menggeleng.
" Nanti aja. Di Kelas, aku bakalan cerita ". Jawab Keyla.
" Disini aja..". Pintaku. Keyla menghela nafas.
" Mama bilang, Aku akan pindah sesegera mungkin dari kota ini. Papaku dapat tawaran kerja di tempat lain..". Ujarnya lesu. Aku tertegun.
" Keyla..!!!". Aku menghambur memeluk Keyla.
" Jika memang inilah yang terbaik untukmu dan aku..Aku ikhlas, kok! Aku yakin, pasti di balik semua ini, ada suatu hal indah yang tersembunyi untuk persahabatan kita ". Aku menangis.

Tiba tiba, bel masuk berbunyi. Terpaksa, Aku dan Keyla masuk ke Kelas.

Keesokan harinya, Keyla menjemputku sebelum berangkat Sekolah. Aku heran. Tak biasa biasanya Keyla menjemputku.

" Sebelum ke Sekolah, ikut Aku dulu, yuk!". Ajak Keyla saat kami sedang bersepeda menuju Sekolah.
" Mau kemana, Key? Ini udah jam setengah tujuh..Entar kita telat,lho..". Ucapku.
"Ah, bentar aja, kok!".

Ternyata, Keyla mengajakku ke Taman kompleks. Disana, Keyla memintaku mengikutinya ke sudut taman.

" Apaan, Key?". Tanyaku tak sabar. Keyla menunjuk ke arah pot pot bunga yang masing masing terdapat bunga dengan jenis yang berbeda beda.
" Ini semua bunga bunga persahabatan Kita. Aku punya jatah 20 bunga sebelah kiri. Sedangakn milikmu ada 20 di sebelah kanan ". Jelas Keyla
" Terus, apa yang harus kita lakukan?". Tanyaku..
" Bisikkan ke setap satu bunga, masing masing satu harapan. Bunga bunga ini harus dirawat dengan baik. Setiap segarnya satu bunga, mengartikan ada satu harapan yang terawat dengan baik". Jawab Keyla.

Kemudian, Kami memulai membisikkan harapan kemasing masing bunga.

...
 

Itulah kejaadian yang terus kuingat hingga kini. Baiklah. Sampai disini dulu ceritanya, ya.. Aku hendak pergi ke Taman kompleks dan merawat bunga bunga impianku. Ups! Mungkin, juga bunga bunga milik Keyla. Okay!

Karya pelangiku



 ASAL USUL PELANGI
Oleh : Nur Nisrina Hanif Rifda
Dahulu kala, hiduplah Seorang Kepala Desa yang memiliki 7 orang putri.  Ketujuh putri tersebut sangatlah cantik dan baik hatinya. Tujuh putri tersebut bernama Putri Merah, Putri Jingga, Putri Kuning, Putri Hijau, Putri Biru, Putri Nila dan Putri Ungu. Mereka pun lembut tutur katanya.
Di Suatu hari, desa tersebut dilanda paceklik. Matahari bersinar lebih terik dari biasanya. Sawah-sawah warga dilanda gagal panen, sumber-sumber air kering dan mengakibatkan ikan-ikan mati menggelepar. Pohon-pohon mati meranggas karena teriknya matahari.
Melihat keadaan itu, Putri Merah ingin mengajak adik-adiknya untuk pergi ke tempat rahasia mereka. Tempat rahasia ini merupakan sebuah ladang ajaib, dimana tumbuhan tidak pernah kering dan mata air selalu tersedia.
“Kakak, kita harus menolong warga disini.. Kasihan mereka..” Ujar Putri Nila sambil menerawang jauh keluar jendela.
“Adinda, sebaiknya kita menuju ke ladang saja ya” Sahut Putri Merah.
Ketujuh putri pun berjalan mengendap-ngendap menuju halaman belakang rumah. Baru saja mereka melangkahkan kaki keluar kamar, Sang Ayah menegur mereka.
“Mau kemana, anak-anakku?” Tanya Sang Kepala Desa yang merupakan ayah mereka.
“Hendak ke halaman belakang Ayah”. Jawab Putri Hijau mewakili saudara-saudaranya.
“Kalian harusnya istirahat. Biarlah Ayah yang mengurus semuanya”. Ujar Kepala Desa. Terpaksa, ketujuh Putri tersebut mengangguk dan berbalik menuju kamar. Putri Ungu yang kini berjalan paling depan, didorong oleh saudara-saudaranya yang lain.
Di kamar, mereka berembuk lagi. Sebelumnya, Putri Hijau telah mengunci pintu untuk mengantisipasi kalau-kalau ada yang datang secara tiba tiba.
“Lebih baik kita istirahat dulu”. Ujar Putri Merah. Adik-adiknya memang capek karena semalam, mereka begadang untuk berkeliling desa dan membagikan bahan makanan. Tapi, berapapun bahan makanan yang tersedia, warga tetap kesulitan karena tidak mendapat air untuk merebus makanan mentah tersebut.
Putri Biru naik ke kasurnya yang ada di tingkatan ke-5. Putri Biru terlelap. Dalam tidur, ternyata ketujuh Putri itu memimpikan hal yang sama. Intinya, jika mereka ingin membebaskan warga desa dari paceklik, mereka harus pergi ke Sungai Pelangi yang letaknya di ujung desa melewati hutan. Mereka harus memakai selendang dan baju yang sesuai dengan nama mereka pada saat matahari bersinar terang.
Serentak, ketujuh putri tersebut bangun bersamaan. Mereka terkejut karena mendapat mimpi yang sama.
“Kita harus segera ke sungai itu...SEKARANG!”. Seru Putri Jingga. Saudara-saudaranya mengangguk setuju. Dengan cepat, mereka memakai baju dan selendang yang sesuai dengan nama mereka. Serta merta ketujuh putri itu berlari ke Sungai Pelangi. Menerobos hutan dan semak semak belukar yang berduri. Hingga sampai ke Sungai Pelangi.
Ketujuh Putri itu mengobati sebentar luka-luka di tubuh mereka menggunakan dedaunan sirih. Tiba tiba, Putri Ungu mendongakkan kepala. Kemudian berkata.
“Kakak-kakakku, sebagai adik terkecil, Adinda Ungu meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan Adinda jika memang inilah detik detik terakhir kita di bumi ini”. Ujar Putri Ungu serta memeluk keenam Kakaknya.
“Adinda Biru juga meminta maaf”. Kata Putri Biru pula.
Mereka saling melepaskan pelukan dan segera berlari ke arah batu cadas tertinggi di tengah sungai. Rambut dan selendang mereka berkibar-kibar tertiup angin. Penduduk Desa berduyun-duyun datang untuk mencegah ketujuh Orang putri tersebut.
Kepala Desa berlari terseok-seok untuk menemui Putri putrinya.
“Anak-anakku, pasti ada cara lain untuk mengatasi paceklik di desa ini tanpa harus mempertaruhkan nyawa kalian.. Cukuplah Ayah kehilangan Ibu, tapi Ayah tidak mau kehilangan kalian..”. Ujar kepala Desa sambil berurai air mata. Jemarinya erat melingkar di pergelangan tangan Putri Ungu.
“Ayah, inilah jalannya..”, Putri Ungu menepis tangan ayahnya dengan halus.
Matahari mengeluarkan sinarnya lebih terang. Sinarnya begitu menyilaukan hingga kepala desa dan warga mundur menepi di bibir sungai. Kilau sang mataharipun memantul ke arah air sungai kemudian memantul lagi ke arah tujuh orang putri tersebut. Ketujuh putri itu melambaikan tangan dan berubah menjadi tujuh berkas cahaya berkilauan di langit. Sungai Pelangi yang memang sudah berisi air sedikit, mulai terisi penuh air dengan sendirinya. Kepala Desa menangis berlutut menatap cahaya-cahaya melengkung di atas sana. Dari kejauhan, dia seakan mampu melihat senyuman dari putri-putri kesayangannya yang kini telah pergi.
Hingga akhirnya, warga desa memberi nama kilau-kilau cahaya itu dengan nama Pelangi. Karena peristiwa tersebut terjadi di Sungai Pelangi..
THE END

Senin, 02 Desember 2013

Kata kata mutiara.


                                              EPISODE 2

~* Ketika kamu hancur dan tak ada harapan, Tuhan bersedia untuk membantu dan menguatkanmu.
~* Jangan terpuruk hanya karena sikap seseorang yang mengecewakanmu. Sebab, masih banyak yang menantimu untuk tersenyum.
~* Dengan secara tidak sadar, kamu telah membahagiakan dirimu hanya dengan kejujuran.

~* Jangan jadikan kekurangan itu sebagai beban, karena itu akan menghalangimu untuk meraih impianmu.
~* Mungkin, kita tidak mendapatkan apa yang kita sukai, tapi kita harus menyukai apa yang kita dapatkan.
~* Jangan dengarkan mereka yang mengejekmu, siapapun dirimu hanya kamu yang tahu dan hanya kamu yang bisa menentukan siapa dirimu.

~* Apapun impianmu, yakini saja bahwa kamu mampu mewujudkannya. Keraguan hanya akan melemahkanmu.
~* Setiap orang memiliki masalah sendiri dalam hidupnya, berat atau ringan akan tergantung pada kehebatan dan kepercayaan diri dalam menghadapi masalah tersebut.


Kata kata mutiara







~* Kegagalan itu hal yang biasa. Dapat mengatasinya adalah luar biasa.
~* Mencintai mengajarkan kita tentang arti keberanian, dan dicintai mengajari kita tentang arti menghargai.
~* Hidup adalah buah perjuangan panjang dan mati adalah buah perjuangan abadi,.

~* Diam bukanlah kelemahan, jika diiringi dengan perbuatan dan hasil nyata.
~* Ada saat dimana kita harus berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu bersyukur.
~* Cinta terbuat dari dua hati dan satu perasaan.

~* Semakin sedikit engkau berbicara tentang kualitasmu, semakin orang ikhlas mengenai kehebatanmu.
~* Terkadang, orang yang kamu hina akan menolongmu, dan yang kamu puji akan menjatuhkanmu.
~* Akan sulit rasanya membahagiakan orang lain, apabila diri sendiri tidak bahagia.

~* Bagi dunia, anda memang tidak sempurna. Tapi bagi orang yang membenci anda, anda nyaris sempurna.
~* Keadaan buruk bukan untuk dikeluhkan, tapi untuk diubah, atau ditinggalkan. Kebaikan mengharuskan ketegasan.

  1. KEPOMPONG DAN ULAT

Seekor Kepompong sedang menangis dan bersedih akan apa yang telah terjadi di sebuah pohon yang sudah tumbang. "Hu..huu...betapa sedihnya kita, diterjang badai tapi tak ada tempat satupun yang aman untuk berlindung..huhu.." sedih sang Kepompong meratapi keadaan.



Dari balik tanah, muncullah seekor semut yang dengan sombongnya berkata "Hai kepompong, lihatlah aku, aku terlindungi dari badai kemarin, tidak seperti kau yang ada diatas tanah, lihat tubuhmu, kau hanya menempel di pohon yang tumbang dan tidak bisa berlindung dari badai" kata sang Semut dengan sombongnya.

Si Semut semakin sombong dan terus berkata demikian kepada semua hewan yang ada di hutan tersebut, sampai pada suatu hari si Semut berjalan diatas lumpur hidup. Si Semut tidak tahu kalau ia berjalan diatas lumpur hidup yang bisa menelan dan menariknya kedalam lumpur tersebut.


"Tolong...tolong....aku terjebak di lumpur hidup..tolong", teriak si semut. Lalu terdengar suara dari atas, "Kayaknya kamu lagi sedang kesulitan ya, semut?" si Semut menengok ke atas mencari sumber suara tadi, ternyata suara tadi berasal dari seekor kupu-kupu yang sedang terbang diatas lumpur hidup tadi.

"Siapa kau?" tanya si Semut galau. "Aku adalah kepompong yang waktu itu kau hina" jawab si Kupu-kupu. Semut merasa malu sekali dan meminta bantuan si Kupu-kupu untuk menolong dia dari lumpur yang menghisapnya. "Tolong aku kupu-kupu, aku minta maaf waktu itu aku sangat sombong sekali bisa bertahan dari badai cuma hanya karena aku berlindung dibawah tanah". Si kupu-kupu akhirnya menolong si Semut dan semutpun selamat serta berjanji ia tidak akan menghina semua makhluk ciptaan Tuhan yang ada di hutan tersebut.

Cerita 1


Anak Penggembala dan Serigala

Aesop


Seorang anak gembala selalu menggembalakan domba milik tuannya dekat suatu hutan yang gelap dan tidak jauh dari kampungnya. Karena mulai merasa bosan tinggal di daerah peternakan, dia selalu menghibur dirinya sendiri dengan cara bermain-main dengan anjingnya dan memainkan serulingnya.
Suatu hari ketika dia menggembalakan dombanya di dekat hutan, dia mulai berpikir apa yang harus dilakukannya apabila dia melihat serigala, dia merasa terhibur dengan memikirkan berbagai macam rencana.
Anak Penggembala dan SerigalaTuannya pernah berkata bahwa apabila dia melihat serigala menyerang kawanan dombanya, dia harus berteriak memanggil bantuan, dan orang-orang sekampung akan datang membantunya. Anak gembala itu berpikir bahwa akan terasa lucu apabila dia pura-pura melihat serigala dan berteriak memanggil orang sekampungnya datang untuk membantunya. Dan anak gembala itu sekarang walaupun tidak melihat seekor serigala pun, dia berpura-pura lari ke arah kampungnya dan berteriak sekeras-kerasnya, "Serigala, serigala!"
Seperti yang dia duga, orang-orang kampung yang mendengarnya berteriak, cepat-cepat meninggalkan pekerjaan mereka dan berlari ke arah anak gembala tersebut untuk membantunya. Tetapi yang mereka temukan adalah anak gembala yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu orang-orang sekampung.
Beberapa hari kemudian, anak gembala itu kembali berteriak, "Serigala! serigala!", kembali orang-orang kampung yang berlari datang untuk menolongnya, hanya menemukan anak gembala yang tertawa terbahak-bahak kembali.
Pada suatu sore ketika matahari mulai terbenam, seekor serigala benar-benar datang dan menyambar domba yang digembalakan oleh anak gembala tersebut.
Dalam ketakutannya, anak gembala itu berlari ke arah kampung dan berteriak, "Serigala! serigala!" Tetapi walaupun orang-orang sekampung mendengarnya berteriak, mereka tidak datang untuk membantunya. "Dia tidak akan bisa menipu kita lagi," kata mereka.
Serigala itu akhirnya berhasil menerkam dan memakan banyak domba yang digembalakan oleh sang anak gembala, lalu berlari masuk ke dalam hutan kembali.
Pembohong tidak akan pernah di percayai lagi, walaupun saat itu mereka berkata benar.

Cerita pengantar tidur


Putri Tidur

Brothers Grimm


Di jaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja dan Ratu yang tidak memiliki anak; masalah ini membuat Raja dan Ratu sangatlah sedih. Tetapi di suatu hari, ketika sang Ratu berjalan di tepi sungai, seekor ikan kecil mengangkat kepalanya keluar dari air dan berkata, "Apa yang kamu inginkan akan terpenuhi, dan kamu akan segera mempunyai seorang putri."
Apa yang ikan kecil tersebut ramalkan segera menjadi kenyataan; dan sang Ratu melahirkan seorang gadis kecil yang sangat cantik sehingga sang Raja tidak dapat menahan kegembiraannya dan mengadakan perjamuan besar besaran. Dia lalu mengundang semua sanak keluarga, teman dan seluruh penduduk dikerajaannya. Semua peri yang ada dikerajaannya juga turut diundang agar mereka dapat ikut menjaga dan memberikan berkah kepada putri kecilnya. Di kerajaannya terdapat tiga belas orang peri dan sang Raja hanya memiliki dua belas piring emas, sehingga Raja tersebut memutuskan untuk mengundang dua belas orang peri saja dan tidak mengundang peri yang ketiga belas. Semua tamu dan peri telah hadir dan setelah perjamuan mereka memberikan hadiah-hadiah terbaiknya untuk putri kecil itu, satu orang peri memberikan kebaikan, peri yang lainnya memberikan kecantikan, yang lainnya lagi memberikan kekayaan, dan begitu pula dengan peri-peri yang lainnya sehingga putri kecil itu hampir mendapatkan semua hal-hal yang terbaik yang ada di dunia. Ketika peri yang kesebelas selesai memberikan berkahnya, peri ketiga belas yang tidak mendapat undangan dan menjadi sangat marah itu, datang dan membalas dendam. Dia berkata, "Putri Raja dalam usianya yang kelima belas akan tertusuk oleh jarum jahit dan meninggal." Kemudian peri yang kedua belas yang belum memberikan berkahnya kepada sang Putri, maju kedepan dan berkata bahwa kutukan yang dikatakan oleh peri ketiga belas tersebut akan terjadi, tetapi dia dapat memperlunak kutukan itu, dan berkata bahwa sang Putri tidak akan meninggal, tetapi hanya jatuh tertidur selama seratus tahun.
Raja berharap agar dia dapat menyelamatkan putri kesayangannya dari ancaman kutukan itu dan memerintahkan semua jarum jahit di istananya harus di bawa keluar dan dimusnahkan. Sementara itu, semua berkah yang diberikan oleh peri-peri tadi terwujud, sang Putri menjadi sangat cantik, baik budi, ramah-tamah dan bijaksana, hingga semua orang mencintainya. Tepat pada usianya yang kelima belas, Raja dan Ratu kebetulan meninggalkan istana, dan sang Putri ditinggalkan sendiri di istana. Sang Putri menjelajah di istana sendirian dan melihat kamar-kamar yang ada pada istana itu, hingga akhirnya dia masuk ke satu menara tua dimana terletak satu tangga sempit menuju ke atas yang berakhir dengan satu pintu kecil. Pada pintu tersebut tergantung sebuah kunci emas, dan ketika dia membuka pintu tersebut, dilihatnya seorang wanita tua sedang menjahit dengan jarum jahit dan kelihatan sangat sibuk.
"Hai ibu yang baik," kata sang Putri, "Apa yang kamu lakukan disini?"
"Menjahit dan menyulam," kata wanita tua itu, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Betapa cantiknya hasil sulaman mu!" kata sang Putri, dan mengambil jarum jahit dan mulai ikut menyulam. Tetapi secara tidak sengaja dia tertusuk oleh jarum tersebut dan apa yang diramalkan sewaktu dia masih kecil, terjadi, sang Putri jatuh ke tanah seolah-olah tidak bernyawa lagi.
Seperti yang diramalkan bahwa walaupun sang Putri akan tertusuk oleh jarum jahit, sang Putri tidak akan meninggal, melainkan hanya akan tertidur pulas; Raja dan Ratu yang baru saja pulang ke istana, beserta semua menteri juga jatuh tertidur, kuda di kandang, anjing di halaman, burung merpati di atas atap dan lalat yang berada di dinding, semuanya jatuh tertidur. Bahkan api yang menyalapun menjadi terhenti, daging yang dipanggang menjadi kaku, tukang masak, yang saat itu sedang menarik rambut seorang anak kecil yang melakukan hal-hal yang kurang baik, juga jatuh tertidur, semuanya tertidur pulas dan diam.
Dengan cepat tanaman-tanaman liar berduri di sekitar istana tumbuh dan memagari istana, dan setiap tahun bertambah tebal dan tebal hingga akhirnya semua tempat di telah dikelilingi oleh tanaman tersebut dan menjadi tidak kelihatan lagi. Bahkan atap dan cerobong asap juga sudah tidak dapat dilihat karena telah tertutup oleh tanaman tersebut. Tetapi kabar tentang putri cantik yang tertidur menyebar ke seluruh daratan sehingga banyak anak-anak Raja dan Pangeran mencoba untuk datang dan berusaha untuk masuk ke dalam istana itu. Tetapi mereka tidak pernah dapat berhasil karena duri dan tanaman yang terhampar menjalin dan menjerat mereka seolah-olah mereka dipegang oleh tangan, dan akhirnya mereka tidak dapat maju lagi.
Setelah bertahun-tahun berlalu, orang-orang yang telah tua menceritakan cerita tentang seorang putri raja yang sangat cantik, betapa tebalnya duri yang memagari istana putri tersebut, dan betapa indahnya istana yang terselubung dalam duri itu. Dia juga menceritakan apa yang didengarnya dari kakeknya dahulu bahwa banyak pangeran telah mencoba untuk menembus semak belukar tersebut, tetapi semuanya tidak pernah ada yang berhasil.
Kemudian seorang pangeran yang mendengar ceritanya berkata, "Semua cerita ini tidak akan menakutkan saya, Saya akan pergi dan melihat Putri Tidur tersebut." Walaupun orang tua yang bercerita tadi telah mencegah pangeran itu untuk pergi, pangeran tersebut tetap memaksa untuk pergi.
Pangeran dan Putri TidurSaat ini, seratus tahun telah berlalu, dan ketika pangeran tersebut datang ke semak belukar yang memagari istana, yang dilihatnya hanyalah tanaman-tanaman yang indah yang dapat dilaluinya dengan mudah. Tanaman tersebut menutup kembali dengan rapat ketika pangeran tersebut telah melaluinya. Ketika pangeran tersebut akhirnya tiba di istana, dilihatnya anjing yang ada di halaman sedang tertidur, begitu juga kuda yang ada di kandang istana, dan di atap dilihatnya burung merpati yang juga tertidur dengan kepala dibawah sayapnya; dan ketika dia masuk ke istana, dia melihat lalat tertidur di dinding istana, dan tukang masak masih memegang rambut anak yang kelihatan meringis dalam tidur, seolah-olah tukang masak itu ingin memukuli anak tersebut.
Ketika dia masuk lebih kedalam, semuanya terasa begitu sunyi sehingga dia bisa mendengar suara nafasnya sendiri; hingga dia tiba di menara tua dan membuka pintu dimana Putri Tidur tersebut berada. Putri Tidur terlihat begitu cantik sehingga sang Pangeran tidak dapat melepaskan matanya dari sang Putri. Sang Pangeran lalu berlutut dan mencium sang Putri. Saat itulah sang Putri membuka matanya dan terbangun, tersenyum kepada sang Pangeran karena kutukan sang peri ketiga belas telah patah.
Mereka berdua lalu keluar dari menara tersebut dan saat itu Raja dan Ratu juga telah terbangun termasuk semua menterinya yang saling memandang dengan takjub. Kuda-kuda istana pun terbangun dan meringkik, anjing-anjing juga melompat bangun dan menggonggong, burung-burung merpati di atap mengeluarkan kepalanya dari bawah sayapnya, melihat sekeliling lalu terbang ke langit; lalat yang didinding langsung beterbangan kembali; api didapur kembali menyala; tukang masak yang tadinya memegang rambut seorang anak laki-laki dan ingin menghukumnya melanjutkan hukumannya dengan memutar telinga anak tersebut hingga anak tersebut menangis.
Akhirnya Raja dan Ratu mengadakan pesta pernikahan untuk sang Putri dan Pangeran yang berakhir dengan kebahagiaan sepanjang hidup mereka.

Kamis, 14 November 2013

Perkenalan


Hai, teman... Terbitlah blog ketigaku! Hehehe...
Tapi, ini adalah blog khususku untuk memuat cerita cerita karyaku dan keseharianku. So, silahkan intip dan baca baca saja diary kecilku ini. Lagipula, aku tidak akan menulis rahasia rahasia yang memalukan, kok!

Salam manis Sakura cantik
~* Nisrina *~
 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez